Ekonomi Palestina Alami Kontraksi 11,5 Persen

Ekonomi Palestina Alami Kontraksi 11,5 Persen
(Foto: Alaraby)

Tepi Barat, AAI - Bank Dunia melaporkan ekonomi Palestina mengalami kontraksi sebesar 11,5 persen selama satu tahun terakhir (2020), melonjak tajam dari kontraksi di tahun sebelumnya (2019) sebesar 7 persen. Hal ini dipengaruhi oleh pandemi Covid-19 hingga adanya gangguan pada dana kliring. Laporan ini tercatat dalam rilis yang dikeluarkan Bank Dunia pada Senin (22/2) kemarin.

“Dampak dari pandemi Corona masih mempengaruhi ekonomi Palestina yang sudah lama kritis, dan diperkirakan akan menyebabkan kontraksi 11,5 persen dari PDB pada tahun 2020, yang merupakan salah satu penurunan paling tajam yang pernah ada,” ungkap laporan tersebut sebagaimana dilansir Anadolu.

Bank Dunia dalam laporannya menyerukan, “koordinasi di semua tingkatan untuk memerangi berjangkitnya virus Corona, dan untuk memastikan ketersediaan layanan kesehatan vital yang berkesinambungan, mengingat krisis keuangan publik saat ini dan kurangnya peralatan medis di bidang kesehatan.”

“Bahkan sebelum situasi memburuk akibat pandemi, prospek ekonomi Palestina sudah suram; mengingat tingkat pertumbuhan ekonomi yang rendah, defisit fiskal yang terus-menerus, tingkat pengangguran yang tinggi dan tingkat kemiskinan yang melonjak,” tambahnya.

Situasi semakin memburuk sebagai akibat berlipat ganda dari pandemi dan penangguhan dana kliring, yaitu pajak impor yang diambil oleh Israel atas nama Otoritas Palestina. Hal ini menyebabkan gelombang kontraksi ekonomi paling parah di Palestina yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Kanthan Shankar, Perwakilan Bank Dunia di Tepi Barat dan Jalur Gaza, Palestina, mengatakan dalam pernyataannya, “Pandemi Corona dan dampaknya telah memperburuk situasi yang sudah sulit sejak lama dan mengkhawatirkan bagi ekonomi Palestina pada tahun 2020.”

Menurut kalkulasinya, tingkat kemiskinan di Palestina telah meningkat hingga 30 persen, dengan sekitar 1,4 juta orang warga Palestina menderita kemiskinan. (T/S: Anadolu)