Dokumen Rahasia Ungkap Perang Demografi Israel di Jalur Gaza

Tujuannya untuk mencaplok area tersebut tanpa adanya sejumlah besar penduduk Arab Palestina di dalamnya

Dokumen Rahasia Ungkap Perang Demografi Israel di Jalur Gaza
Warga Palestina di Perbatasan Rafah (Foto: Reuters)

AAI - Seorang penulis Israel menyatakan bahwa “protokol rahasia Israel, yang baru-baru ini terungkap, membeberkan bagaimana selama tahun-tahun pertama pendudukan, Otoritas Israel meningkatkan upayanya untuk membentuk kembali demografi Palestina di Jalur Gaza, dengan tujuan mencaplok area tersebut tanpa adanya sejumlah besar penduduk Arab Palestina di dalamnya.”

Dalam artikelnya di situs forum regthink.org tertanggal 16 Februari 2021, Omri Shefer Raviv menuliskan, “Pada musim panas 2019, ada laporan yang menyatakan bahwa Israel sedang berkomunikasi dengan beberapa negara untuk mengatur migrasi teroganisir warga Palestina dari Jalur Gaza menuju negara tersebut. Menurut rencananya, segera setelah negara mana pun setuju untuk menerima imigran dari Jalur Gaza, Israel akan mendirikan bandara di selatan Gaza, mengangkut penduduk Gaza ke sana dengan bus, dan membawa mereka ke negara baru mereka.”

Raviv, yang merupakan peneliti mitra (co-researcher) di Azrieli Center for Israel Studies di Ben-Gurion University, menjelaskan, “Kabar ini sesaat menimbulkan pertanyaan: Apakah Israel terlibat dalam proses migrasi warga Palestina dari Jalur Gaza? Pejabat Israel tidak ada yang menyangkal rencana ini. Bahkan mantan Menteri Kehakiman Ayelet Shaked menyatakan dukungannya untuk mendorong migrasi dari Jalur Gaza, hingga memperjuangkannya di kabinet selama bertahun-tahun.”

Berikut beberapa poin tulisannya dalam laman forum regthink.org:

Pertama, Isael menetapkan suatu tujuan yaitu mengurangi jumlah penduduk Gaza sebanyak mungkin, dan prioritasnya adalah migrasi penduduk Palestina yang berada di kamp pengungsian. Pemenuhan tujuan ambisius ini pada akhirnya akan memungkinkan Israel mencaplok Jalur Gaza tanpa harus memiliki terlalu banyak penduduk sipil Arab Palestina di dalamnya.

Pada awal 1969, Otoritas Israel telah mengadopsi saran Badan Keamanan, antara lain membuka kesempatan bagi warga Palestina di Jalur Gaza untuk bekerja di Israel. Keputusan ini menyebabkan pertumbuhan ekonomi di Jalur Gaza selama dua dekade. Meski demikian, pertimbangan demografis tidak sepenuhnya ditinggalkan tetapi hanya diubah; alih-alih berfokus pada jumlah imigran, Israel mulai mengkaji karakteristik imigran, dan akibatnya, kaum muda yang berpendidikan menjadi sasaran utama kebijakan imigrasi Israel.

Di akhir artikelnya, Raviv meninggalkan beberapa pertanyaan yang mungkin akan terjawab seiring berjalannya waktu, “Apakah migrasi dari Jalur Gaza adalah salah satu tujuan dari pada blokade di sana dan bukan hanya akibatnya? Apakah dibukanya perbatasan Rafah pada 2018 yang berujung pada migrasi 35 ribu warga Palestina memiliki pertimbangan demografis? Dan apakah upaya baru-baru ini, untuk mendorong migrasi yang telah dimulai, ditujukan untuk warga Palestina secara umum atau untuk bagian tertentu dari populasi mereka, seperti warga terpelajar?” (T/S: Paltimeps)